Terkadang yang paling menyakitkan bukan saat seseorang pergi, tapi cara dia pergi tanpa rasa, tanpa penjelasan yang logis, bahkan tanpa pamit yang layak, seolah kamu bukan seseorang, tapi sekedar dianggap rangkaian dalam episode yang bisa dilewati begitu saja.
Jika pernah merasakan saat seseorang yang diperjuangkan tiba-tiba pergi dengan wajah tenang dan tanpa sedikitpun beban. Sementara kamu ditempat yang sama berusaha untuk mengerti dengan apa yang salah dari dirimu.
Anehnya semakin kamu berusaha paham malah semakin kamu merasa kosong. Karena memang tak ada yang bisa dijelaskan dari sesuatu yang tak menggunakan rasa. Sekarang sudah saatnya kamu berhenti menjadi pasien yang tak kunjung sembuh.
Mulailah menjelajahi dan menemukan kembali kebahagiaan yang sebelumnya sempat hilang.
Dalam psikologi ada istilah "Emotional datacment bias", yaitu saat seseorang meyakinkan dirinya untuk tidak peduli agar bisa merasa dirinya bebas. Padahal sebenanrnya itu adalah cara halus untuk menekan empati, mereka menipu diri sendiri agar bisa meninggalkan tanpa merasa bersalah.
Cepat atau lambat semua rasa yang ditekan akan kembali lagi dalam bentuk yang lebih berat, lebih sepi, dan sangat menghantui. Sementara kamu yang dulu dibuang tanpa rasa justru mulai belajar sesuatu yang jauh lebih besar dari sekedar ditinggalkan. Kamu belajar menatap realita dalam hidup tanpa topeng dan bertanya pada diri sendiri bukan kenapa dia --begitu-- tapi apa yang bisa aku pelajari dari kejadian ini.
Stoikisme mengajarkan kehilangan itu bukan akhir melainkan awal dari kesadaran diri terkait siapa kamu sebenanrya, saat yang kamu perjuangkan sudah hilang.
Jadi jika kamu berada di titik ini berhenti mencari alasan kenapa dia pergi tanpa rasa. Kamu tidak kehilangan orang, kamu hanya sedang dibebaskan dari seseorang yang tak mampu menghargai akan ketulusan perasaanmu.
Harusnya aku sudah selesai tanpa harus membalasnya, itu yang harus kamu ingat. Karena disitulah cerita barumu akan bisa dimulai. Perlahan kamu belajar tentang arti kehilangan yang sesungguhnya. Semesta akan membuatnya belajar tentang penyesalan yang tak bisa diperbaiki.
1. Dia membuangmu karena terlalu nyaman
"BUKAN KARENA KAMU KURANG", Hal paling aneh dalam hubungan kadang justru ketika kamu kasih semua perhatian kesetiaan dan ketenangan tapi dia malah pergi. Bukan karena kamu kurang tapi karena kamu terlalu membuatnya nyaman.
Banyak orang yang tak sadar kalau dalam hubungan yang stabil dan tenang otak manusia bisa merasa bosan bahkan hambar.
Psikologi menyebutnya "Hedonic Adaptation", yaitu kondisi seseorang terbiasa dengan kebaikan sampai kehilangan rasa syukur seperti seseorang yang setiap hari hidup dalam cuaca yang cerah sampai lupa dengan bagaimana berharganya sinar matahari itu sendiri.
Dia membuang kamu bukan karena kamu salah, tapi karena dia butuh sensasi baru. Sesuatu yang memicu adrenalinnya. Sayangnya, yang tenang seringkali dikira tak cukup menantang. Padahal ketenangan adalah bentuk cinta paling dewasa. Bukan kehilangan arah tapi tahu kapan harus berhenti bermain drama.
Kalau kamu lihat sekarang mungkin dia terlihat bahagia karena sudah bertemu dengan orang dan dunia baru seolah sekarang hidupnya lebih seru. Tapi yang dia cari bukan cinta melainkan pelarian dari dirinya sendiri, karena ada orang yang tak sangggup menghadapi keheningan yang dia tak mau berhadapan dengan pikirannya sendiri.
Stoikisme bilang manusia sering melarikan diri dari ketenangan karena belum siap menghadapi dirinya sendiri. Dan itu tepat sekali dengan dia yang tak siap dengan hubungan yang tenang, karena ketenangan menuntut kedewasaan.
Jangan merasa kamu kalah atau kamu tak cukup. Kamu bukan kehilangan cinta melainkan kamu hanya kehilangan seseorang yang belum selesai dengan dirinya sendiri.
Percayalah suatu saat nanti dia akan sadar bahwa ketenangan yang dulu dia buang itu ternyata adalah hal paling langka yang sulit akan dia temukan lagi dikehidupan berikutnya.
Untuk sampai ke titik itu kamu harus melewati masa paling berat dimana kamu merasa hancur. Padahal sebenarnya terjadi adalah otakmu sedang berusaha untuk menyembuhkan dirimu sendiri.
2. Kamu menderita (diawal) tapi Otakmu menyembuhkan dirimu
Setelah semuanya berakhir setidaknya muncul perasaan hancur karena telah kehilangan arah. Bisa mengalami susah tidur karena tiba-tiba dipertengahan malam ada perasaan ingin tahu kabar dia padahal kamu tahu itu akan membuatmu tambah merasakan sakit.
Kamu tidak lemah, kamu hanya manusia yang sedang merasakan reaksi biologi alami, tidak apa itu bukan ketakutan apalagi dibilang kutukan. Dalam psikologi ini disebut "Withdrawal Effect", yaitu efek kehilangan candu. Karena dulunya dari setiap lengkung senyum, setiap pesan yang diterima, dan setiap momen dan kebersamaan kamu dengannya otakmu bekerja memproduksi dopamin atau hormon bahagia yang membuatmu merasa hidup.
Dan seketika semuanya berhenti mendadak, kadar dopaminmu menjauh-berkurang. Sebaliknya yang terjadi adalah hormon stress yang semakin melonjak, itulah kamu merasa cemas, hampa, gelisah tanpa alasan bahkan serasa sesak di dalam dada tanpa tahu kenapa itu bisa terjadi.
Percayalah tubuhmu tidak sedang menghukummu, dia sedang menyembuhkanmu. Proses ini disebut "Neurohealing" yaitu proses dimana otak sedang memutus keterikatan emosional yang dulu pernah kamu bangun bersamanya. Ini momen penting untuk kamu bisa mengendalikan bagaimana responmu, bukan keadaanmu.
Perlu diketahui kalau kamu tak akan bisa mempercepat prosesnya tapi kabar baiknya kamu bisa memilih bagaimana cara kamu menanggapinya. Bukan dengan melawan rasa sakitnya tapi dengan menerimanya dan membiarkan tubuh serta pikiranmu bekerjasama untuk menuju ke jalan pulih.
Ingat, jika kamu merasa kacau itu bukan tanda kalau kamu kalah ya, tapi sistem dirimu yang sedang beradaptasi menjadi versimu yang lebih kuat.
3. Dia terlihat tenang tapi itu hanya fase kebebasan palsu
Sementara kamu sedang berjuang menata hati yang luluh lantak, mungkin di lain tempat dia tampak sedang merasakan bahagia, tertawa dan jalan bersama orang baru seolah dunianya lebih indah tanpa kamu. (Itu haknya).
Kamu jangan iri dan jangan terbakar amarah, bisa saja yang kamu lihat sebenarnya bukan ketenangan melainkan itu adalah fase uforia palsu. Secara psikologis setelah seseorang melepaskan hubungan, otaknya sedang memproduksi dopamin tambahan sebagai bentuk reward.
-Aku bebas-aku menang-aku bisa memulai sesuatu yang baru. Efeknya mirip seperti orang yang sedang mendapatkan sensasi baru dari hal-hal instan, menyenangkan diawal tapi biasanya kosong diakhir.
Fenomena ini disebut "Postbreak Uforia Trap", perasaan lega sesaat yang nantinya bergeser menjadi kekosongan. Karena saat efek dopaminnya mereda, realitas akan mulai berbicara.
Tak ada lagi seseorang untuk peduli, tak ada lagi tempat aman untuk pulang. Di titik itu muncul "Emotional Disonance" yaitu benturan bathin antara rasa bebas yang diinginkan dan rasa sepi yang mulai menelannya diam-diam.
Stoikisme: "Kebahagian tanpa makna hanya penundaan penderitaan". Dan itulah yang terjadi padanya sekarang.
Sekarang kamu tak perlu membuktikan apapun dan tak perlu juga membuatnya merasa menyesal. Biarkan waktu yang bekerja dan memperlihatkan semuanya. Karena orang yang membuang ketulusan pada akhirnya akan belajar bahwa yang ia cari diluar itu tak akan pernah bisa menggantikan kedamaian yang dulu ia pernah buang sendiri.
Disaat dia sibuk menutupi kekosongannya, hidupmu yang diam-diam berproses sekarang mulai berubah arah.
4. Kamu Diam--Hidupmu pelan tapi pasti berubah
Tentang bagaimana diam menjadi kekuatan tersembunyi yang bisa mengubah segalanya.
Diam itu bukan tanda kekalahan melainkan bentuk kendali tertinggi tentang kamu yang berhenti membuktikan dan menjelaskan serta berhenti melawan hal yang sebenarnya sudah selesai.
Tanpa kamu sadari diam mulai menata ulang hidupmu dengan perlahan kan? Kamu mulai mencari makna dari hal sederhana dan dari rutinitas kecil yang sebelumnya kamu abaikan, bahkan dari doa yang kamu ucapkan tanpa keluh, atau bisa juga dari langkah kecil versi dirimu yang menuju versi kamu yang lebih baik.
"Behavioral Redirection", saat energi yang dulu habis untuk seseorang, kini mengalir ke arah kamu yang menjadikan kamu tumbuh. Kamu sekarang bergerak dengan kesadaran tanpa luka.
Stoikisme: "Ketenangan itu tidak ditemukan tapi dibangun dari tindakan-tindakan kecil yang terkendali".
Tanpa kamu sadari kamu sudah jauh lebih kuat dari versi dirimu yang dulu yang masih berharap seseorang itu untuk kembali. Tak ada lagi ketergantungan mengenai kabarnya karena arahmu sudah kamu tentukan sendiri.
5. Kamu tenang--Dia mulai gelisah
Satu hal yang sering dilupakan oleh orang yang membuangmu, bahwa sebenarnya diam itu mempunyai gema. Manusia secara alami sangat membenci ketidakpastian.
Ketika kamu berhenti bereaksi, secara otomatis otaknya pelan-pelan mulai bekerja sendiri.
"Kognitif Inbalance": saat pikiran mencoba untuk menyeimbangkan situasi yang dulu ia rasa terkendali tapi kini hilang diluar jangkauan.
Di titik itu ketenanganmu berubah menjadi cermin yang memantulkan semua hal yang pernah dia lakukan padamu.
Sroikisme: "Kemenangan sejati bukan karena kamu membuatnya kalah tapi saat kamu berusaha tetap tenang disaat dunia sedang menantangmu."
Tak perlu membalas atau pun membuktikan karena sekarang diam yang kamu pertahankan cukup untuk membuatnya berpikir lebih keras. Menariknya disaat kamu benar-benar tenang disanalah sesuatu mulai bekerja secara diam-diam. Ingatan mengenai ketulusanmu bukan sebagai hukuman melainkan kenyataan yang tak bisa diabaikan lagi.
6. (Nanti) Dia dihantui bayangan dari ketulusanmu
--Hidup itu lucu-- Dulu kamu menganggap selalu berusaha keras menjaga hubungan agar tetap bersama tapi justru kamu yang dibuangnya seolah kamu tak berarti apa-apa.
Sekarang semua telah berlalu, tanpa kamu sadari, yang dulu membuangmu justru sedang dilanda dan dihantui oleh ketulusanmu sendiri.
Secara ilmiah bisa dijelaskan dengan kerja "mirror newrons" di otak manusia. Bagian otak yang aktif ketika seseorang melihat dan mengingat situasi yang pernah menyentuh kedalaman emosinya.
Jika setiap kali dia melihat orang yang mirip kamu atau mengalami momen, peristiwa, bahkan tempat yang mengingatkan pada masa kalian dulu...otaknya akan otomatis memutar ulang memori perasaan itu, dan disitulah penyesalan mulai dan sedang bekerja diam-diam.
Setiap dia bertemu orang baru akan muncul perbandingan tak sadar. --Tak sama seperti kamu yang dulu--, itulah bentuk penyesalan paling sunyi dan akan terasa tanpa bisa dihindari.
Karma psikologis berjalan melalui kesadaran, bukan hukuman.
Kamu tak menghukumnya, tapi dia dihukum oleh pikirannya sendiri dan oleh kenangan yang terus muncul tanpa kamu harus melakukan apapun. Jadi biarkan saja, kamu tak perlu menghapus apapun karena setiap kenangan baik yang sudah diberikan sekarang menjadi cermin yang membuatnya sadar betapa berharganya sesuatu setelah ia merasa kehilangan.
7. Maafkan tapi jangan kembali
Banyak hal yang sering disalahpahami seseorang bahwa memafkan berarti membuka lagi pintu.
Selama kamu masih menyimpan dendam otakmu masih menyimpan memori lama.
Dalam psikologi ini adalah "neural loop", yaitu siklus pikiran yang mengulang peristiwa lama. Proses untuk memutuskannya disebut "neural clossure" yaitu menutup lingkaran emosi agar otak berhenti kembali ke masa lalu.
Stoikisme: "Yang bijak bukan yang melupakan tapi yang bisa mengingat tanpa muncul rasa sakitnya."
Mengenang dan belajar dari apa yang telah selesai tapi jangan mengulangnya. Maafkan bukan karena dia layak, tapi karena kamu ingin tenang.
Setiap kali kamu memilih damai kamu sedang mengambil kendali atas hidupmu sendiri. Di titik itu kamu benar-benar bebas dari pengaruhnya terhadap hatimu.
8. Ketenanganmu adalah hukuman yang tak bisa dia mengerti
Sekarang kamu hidup dengan damai bukan karena kamu sudah melupakannya, tapi karena kamu sudah menerima semuanya.
Yang akan dia temui selanjutnya adalah kamu dengan versi terbarumu.
Ketika seseorang yang dulu berkuasa atas perasaanmu tiba-tiba sadar bahwa dia tak punya kendali apapun atas dirimu.
Stoikisme: "Tak ada yang bisa melukai jiwa yang sudah memahami nilainya sendiri." Dimana kebahagianmu tidak lagi bergantung pada siapapun.
Ada masa dimana Tuhanmu mengajakmu jalan sendririan, bukan karena kamu lemah. Tapi karena Dia ingin mengajarkan kamu kuat tanpa sandaran siapapun selain Dia. Dalam sepi kamu mulai mengenal luka yang dulu disembunyikan, belajar memaafkan tanpa harus diminta, dan menata hati yang lelah oleh dunia. Menyendiri bukanlah kesendirian, tapi madrasah jiwa tempat Tuhanmu mengajarkan makna ikhlas, sabar, dan tawakal. Sebab dari kesendirian lahir kedewasaan, dari kesedihan tumbuh kekuatan. Dan pada akhirnya kita sadar bahwa bahagia sejati bukan dari siapa yang menemani, tapi dari seberapa dekat hati ini dengan pemilik alam semesta.
