Manusia di dunia yang sering dipenuhi oleh kemarahan, dendam, dan keinginan untuk membalas, kisah Abdul-Munim Sombat menghadirkan pelajaran yang begitu kuat tentang bagaimana memberi pengampunan dan belas kasih terhadap sesama manusia.
Abdul-Munim Sombat adalah ayah dari Salahuddin Jitmoud, seorang anak laki-laki pengantar pizza yang menjadi korban pembunuhan dalam sebuah aksi perampokan di Lexington, Kentucky, Amerika Serikat, pada tahun 2015. Kehilangan seorang anak akibat tindak kekerasan adalah salah satu penderitaan terbesar yang dapat dialami orang tua. Tidak ada satupun kata yang mampu menggambarkan luka dan kesedihan yang ditinggalkan oleh tragedi semacam itu.
Namun, yang membuat kisah ini begitu menginspirasi adalah apa yang terjadi di ruang sidang ketika salah satu pelaku yang bernama Trey Alexander Relford menerima hukuman atas keterlibatannya dalam kasus tersebut. Alih-alih meluapkan kemarahan atau kebencian, Abdul-Munim Sombat memilih jalan yang berbeda.
Di hadapan hakim, jaksa, dan para hadirin yang hadir, Sombat menyampaikan bahwa dirinya telah memaafkan pelaku. Bahkan, ia mendekati Relford untuk memberikan tisu dan berakhir dengan memeluknya. Tindakan itu mengejutkan banyak orang dan membuat suasana di ruang sidang dipenuhi emosi.
Bagi sebagian orang, pengampunan mungkin terlihat sebagai kelemahan. Namun sesungguhnya, memaafkan membutuhkan kekuatan yang sangat luar biasa. Pengampunan bukan berarti menganggap kejahatan yang terjadi sebagai sesuatu yang benar. Pengampunan juga bukan berarti menghapus konsekuensi hukum yang harus diterima pelaku. Sebaliknya, pengampunan adalah keputusan untuk tidak membiarkan kebencian menguasai hati.
Melalui tindakannya, Abdul-Munim Sombat menunjukkan bahwa belas kasih dapat tetap hadir bahkan di tengah luka yang sangat dalam. Ia memilih untuk tidak membiarkan tragedi merampas kemanusiaannya. Ia percaya bahwa setiap manusia memiliki kesempatan untuk bertobat dan berubah menjadi pribadi yang lebih baik.
Kisah ini mengajarkan bahwa pengampunan adalah sebuah proses yang lahir dari keberanian, ketulusan, dan keyakinan yang kuat. Tidak semua orang mampu melakukannya, dan tidak ada yang mengatakan bahwa itu mudah. Namun ketika seseorang memilih untuk memaafkan, ia sedang membebaskan dirinya dari beban kebencian yang terus mengikat.
Di tengah kehidupan sehari-hari, mungkin kita tidak menghadapi luka sebesar yang dialami Abdul-Munim Sombat. Namun kita sering berhadapan dengan kekecewaan, perselisihan, atau perlakuan yang menyakitkan dari orang lain. Kisah ini mengingatkan kita bahwa selalu ada pilihan untuk merespon dengan kasih daripada kebencian dengan pengampunan daripada dendam.
Pengampunan tidak mengubah masa lalu, tetapi dapat mengubah masa depan. Dan terkadang tindakan yang paling kuat bukanlah membalas melainkan memilih untuk tetap mengasihi ketika kita memiliki alasan untuk membenci.
Abdul-Munim Sombat telah memberikan contoh yang langka namun sangat berharga, bahwa belas kasih dan pengampunan memiliki kekuatan untuk menerangi bahkan momen-momen paling gelap dalam kehidupan manusia.
Dalam kehidupan sehari-hari mungkin kita tidak mengalami ujian seberat yang dialami Abdul-Munim. Namun kita tetap menghadapi berbagai luka perkataan yang menyakitkan, pengkhianatan, fitnah, atau perlakuan yang tidak adil. Saat itulah kita diuji, apakah kita akan memelihara kebencian atau berusaha memaafkan.
Tentu saja memaafkan bukan perkara mudah. Ada luka yang membutuhkan waktu untuk sembuh. Ada air mata yang tidak langsung berhenti mengalir. Namun setiap langkah menuju pengampunan adalah langkah menuju ketenangan hati.
"Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas tanggungan Allah." (QS. Asy-Syura: 40)
Betapa besar janji Allah bagi orang yang memilih jalan maaf. Bukan sekadar pahala biasa, melainkan pahala yang Allah sendiri janjikan.
Dari Abdul-Munim Sombat, kita belajar bahwa belas kasih tidak lahir ketika keadaan mudah, melainkan ketika hati sedang diuji. Kita belajar bahwa pengampunan bukanlah kekalahan, melainkan kemenangan atas amarah dan dendam.
Semoga kisah ini menginspirasi kita untuk menjadi pribadi yang lebih lapang dada, lebih penyayang, dan lebih dekat kepada akhlak yang dicintaiNYA. Sebab pada akhirnya, setiap kita berharap mendapatkan ampunan dariNYA. Maka salah satu jalan untuk meraihnya adalah dengan belajar memaafkan sesama manusia.
